Karena kami keluarga, maka dibuatlah pintu penghubung ini,” aku bicara gugup.“Namamu siapa, sih?” Tanya Mbak Marissa.“Mirza!”“Ah, huruf depannya sama-sama M dengan saya. Bokep Mendung tipis berarak di langit. Dan tak perlu menunggu sore, ia kembali siangnya, sekitar pukul 10 dan menyerangku lagi di minggu pagi itu. Kan hujan dan gelap?” tanya Mbak Marisa.“Nggak. Aku membuka selot dan membuka pintu. Entah kenapa aku jadi ketakutan. Entah kenapa, semenjak hari itu, wajah Mbak Marissa, begitu aku memanggilnya, terus bergelayut di mataku. Entah kenapa, semenjak hari itu, wajah Mbak Marissa, begitu aku memanggilnya, terus bergelayut di mataku. Sudah biasa ditinggal pergi Mas Fredi,” ia menatapku tajam, mengerling sekilas dan berbalik meninggalkanku.“Sudah, ya, aku balik dulu” ia pamit. Sering diam-diam aku menatapnya dari kejauhan manakala ia bekerja di taman kecil kebun di depan rumahnya.




















