Mungkin lain kali.” dia menghindar.Aku menghela nafas panjang. Bokep Satu detik… dua… tiga… empat… bahkan hingga 1 menit berlalu, aku tidak mendengar apa-apa.Ugh!“Maaf, sayang. “Pa, masukin ya? Cepat lakukan!” aku meminta. Aku jadi ingin mengintip mereka.Menarik nafas panjang dan berdiam diri sesaat, aku pun berjalan mengendap-endap dan mengintip dari jendela. “Siapa tahu, sebelum ini dilaksanakan, kamu sudah hamil duluan.”
“Iya, aku lebih suka seperti itu.” kuantar dia yang berjalan keluar ruangan. “OK deh, siapa yang duluan?” tanya bang Irul. Bahkan saking terbuainya oleh cumbuan lak-laki itu, aku sama sekali tidak menyadari kalau kini tubuh bagian atasku sudah tidak berpenutup lagi. Aku mencoba memikirkan sikap-sikap mas Danu akhir-akhir ini, mungkinkah ada perubahan yang luput dari pandangan mataku?Sikap diamku membuat Sita bertanya,“Kenapa, In?”Aku menggeleng,“Mas Danu sudah memendam rahasia ini sejak dua bulan pernikahan.” lirihku.




















