Kusambut tangannya. Bokep Kulumat lagi. Tapi kali ini Alia “menghidangkan” seluruhnya! Oops, lagi-lagi Alia menepis tanganku. “Loe juga bisa ‘tinggi’ dan mencapai puncak, engga kaya tadi,” lanjutku lagi. Perhatianku terpusat pada gerak gesture dia bercerita dan sesekali melempar pandangan ke bawah, ke sepasang kaki mulusnya dan sedikit paha yang tak tertutup oleh rok span-nya. Aku amati dadanya dari samping, rasanya wajar-wajar saja. Kesempatan ketemu yang amat langka ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya..”
“Kenapa musti di hotel?”
Iya, kenapa ya? Orang jatuh cinta tak lagi hanya dari pandangan pertama, tapi bisa dimulai dari sentuhan ujung jari pada keyboard. Padahal dia tahu, kami berdua sama-sama tak menggunakan proteksi. Nah, sudah duduk di kursi, tapi masih ada penghalangnya, ada meja bundar di antara kami.




















