Kami tak punya rumah sendiri, sehari-hari kami hanya tinggal di gubuk kecil milik tetangga. Bokep Tak jarang dia mencucikan pakaian milikku saat ibuku terlalu sibuk bekerja. Kini aku sudah naik ke kelas 2 SMP. Ibu yang tampaknya juga merindukan ayah, akhirnya setuju.Rencana awalnya, aku dan adikku akan dibawa. Seiring denganitu, suaraku juga mulai berubah, membuat aku malas bermain dengan teman-teman lain. Hal itu makin membuat mbak Darsih sayang kepadaku. Adikku saat itu masih kelas lima SD. Tapi saat ayah pergi ke kota besar untuk mencoba merubah nasib sebagai pedagang nasi goreng, kami dititipkan di rumah nenek yang ada di kampung sebelah. Paling hanya ke sawah tak jauh dari rumahku, itupun kalau pas musim layangan saja. kata mbak Darsih pada suatu hari, saat dia kesulitan membangunkanku.Yah, dia mana bisa dibangunin!




















