Kemudian ia menutup pintu kamar kosnya. Rupanya malam itu suasana cukup ramai, tidak seperti hari-hari biasa. Bokep Cinta hanya bisa menurut. “Cinta?”, terdengar suara laki-laki. Cinta berjalan mendekati kekasihnya tersebut. Untuk pelanggan berusia muda, mungkin hanya dengan membuka pakaian saja sudah mampu membuat mereka tegang. Memang ia tidak bisa begitu saja menuduh Cinta demikian. Jauh sekali dari kesan laki-laki mata keranjang yang suka mencicipi gadis-gadis muda. Ia pun terus melanjutkan langkahnya menuju resepsionis. Kembali ia berharap Om Ridwan akan bosan dan tersulut emosinya. Sesampainya didalam, ia menyapu pandangannya ke sekeliling cafe. “Sebutin saja harganya…”.“Cinta gak mau nerima uang Om”.




















