Tidak perlu diantar. Bokep Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. “Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Dari iramanya bukan sedang berjalan. Aroma asli seorang wanita. Garis setrikaannya masih terlihat. Lalu dikocok-kocok sebentar. Garis setrikaannya masih terlihat. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Aku pun segan memulai cerita. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Badannya berbalik lalu melangkah. Matanya dikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain di belakang angkot. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita.



















