“Chie sudah tidur.”
Kupalingkan wajahku, menatap Jay yang sudah duduk di sebelahku. “Ray, Aku masih perawan.”
Ah! Bokep Pertanyaan yang sangat sukat untuk kujawab. “Chie…” erangku tertahan, mataku terpejam. Di dalam saja!” Mama Chie memanggilku masuk. Ah, Chie. Inilah kita.”
Aku tak mau menoleh. Ah. Hahahaha…”
Tapi Chie hanya terdiam, memeluk kedua lututnya. “Chie, sudahlah.”
“Ray, Papa udah nggak ada.”
Kuusap belakang kepalanya, menekan tengkuknya, berusaha melegakannya. “Seandainya saja pikiran kita sudah lebih terbuka, mungkin Indonesia sudah kehabisan perawan. Keperawanan itu datang dari hati, bukan dari sekedar selaput dara ataupun yang biasa disebut orang-orang darah malam pengantin.”
Kunyalakan batang rokok di sudut bibirku.




















