Aku geser posisi dudukku mendekati Evi. Tia memeluk erat tubuhku dari belakang, sambil bibirnya sesekali ditempelkan diarea sensitifku, di belakang telinga dan payudaranya yang kenyal menempel lembut dipunggungku, membuat darahku naik sampai di kepala.Terdengar bisikan suaranya yang manja “Terasa ngga ?”. Bokep Detak jantungku mulai kencang.Bergemuruh. Karena posisi kursinya menghadap samping dan berhadap-hadapan maka aku putuskan untuk menghadap ke depan dan duduk di belakangku dalah Tia.Sedangkan Evi duduk di seberang bangku. Sampai pada hari yang dinanti-nanti,sekali lagi Tia mendominasi ku. “Thanks ya, Vi”. Sepanjang jalan, aku gandeng tangannya. Aku tau pasti, Evi pasti marah dan cemburu melihat kedekatanku dengan Tia.




















