Kadang-kadang ketimun. Bokep Tapi ia dingin sekali. Duduk di tepi dipan. Jendela kubuka. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Atau mau gunting? Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Masih ada esok. Daripada suntuk diam di rumah, tadi malam aku menyelesaikan kerjaan yang masih menumpuk.Kerjaan yang menumpuk sama merangsangnya dengan seorang wanita dewasa yang keringatan di lehernya, yang aroma tubuhnya tercium. Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Begini saja daripada repot-repot. Aku tersetrum. Tidak perlu diantar. Sial. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa.


















