Raut mukanya tampak kaku dan menatap ke kaca depan meski saat kembali kubimbing tangannya agar menggenggam batang kontolku yang seperti pisang ambon ini beliau tidak berontak.Setelah tangannya sudah mulai akrab dengan kontolku, aku pun kembali memegang stir dan menginjak pedal gas dan melanjutkan perjalanan ke rumah mbah Suliyem. Bokep Di perjalanan aku jadi tahu bahwa mbah Suliyem tinggal sendirian, suaminya sudah meninggal sedangkan anak perempuan satu-satunya merantau di Jakarta dan bekerja sebagai seorang PRT, dan masih banyak lagi hingga ahkirnya kami sampai pada percakapan kunci dari semua ini …“Mas, terima kasih ya sudah mau antar simbah pulang, sekali lagi simbah berterima kasih pada mas … tapi simbah cuma punya ini mas …”Mbah Suliyem sedikit memalingkan tubuhnya membelakangiku dan kemudian berbalik sambil menyodorkan selembar uang lima ribu rupiah.




















